Saturday, July 11 2026

Upaya pemerintah, khususnya Komisi Anti Korupsi (KPK) untuk mengembangkan Birokrasi Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) tentu patut diapresiasi. Melalui upaya untuk melakukan kompetisi di berbagai Satuan Kerja atau satker di berbagai Kementerian/Lembaga, maka sesungguhnya diharapkan akan dapat menghasilkan contoh yang baik dalam mengembangkan birokrasi yang berwibawa. Ungkapan ini saya sampaikan

Oleh: Ahmad Shiddiq (Mahasiswa S1 2006-2010 dan S2 2011-2013 Sunan Ampel Surabaya) Di tengah hiruk pikuk birokrasi kampus, nama Prof. Nur Syam, selalu disebut dengan rasa hormat, bukan karena jabatannya, melainkan karena sikapnya. Beliau adalah Mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya periode 2008–2012. Namun bagi Prof. Nur Syam, jabatan bukanlah tujuan akhir. Baginya, jabatan adalah

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Sumenep, saya merasa sangat berbahagia sebab bisa bertemu dengan para Kiai dan juga alumni Pondok Pesantren ini. 30/06/2026. Acara ini memang didesain sebagai acara untuk mendatangkan para alumni dalam kaitannya dengan upaya pesantren untuk mengikat jaringan pesantren, alumni dan masyarakat. Saya bersyukur bisa bertemu dengan para

Artikel berjudul “Between Justice and Pragmatism: Operationalizing Islamic Ethics in Indonesia’s Foreign Policy on Palestine” karya Shahram Akbarzadeh. Tulisan ini terbit di Studia Islamika, tahun 2026. Studi ini merupakan tulisan penting untuk memahami bagaimana Indonesia mengartikulasikan etika Islam dalam kebijakan luar negeri, khususnya dalam isu Palestina dan krisis Gaza. Artikel tersebut tidak sekadar membahas dukungan

Prof. Dr. Nur Syam, MSi Ada yang menarik di sela-sela acara yang dilakukan di Kabupaten Sumenep. Ada empat acara yang saya ikuti, mulai pagi memberikan taushiyah tentang pendidikan pesantren pada para alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, lalu bertemu para dosen STAI Nasy’atul Muta’allimin yang memiliki dua prodi, yaitu Prodi Ekonomi Syariah dan Prodi Tasawuf dan

Prof. Dr. Nur Syam, MSi Distingsi pendidikan Islam dan pendidikan pesantren sekurang-kurangnya sudah ditemukan body of knowledge atau sasaran kajian di antara keduanya. Demikian pula rumusan tentang epistemologi pada masing-masing bidang keilmuannya. Di dalam tulisan saya sebelumnya, saya gunakan istilah ada yang serba teks untuk pendidikan pesantren, khususnya Ma’had Aly, dan ada yang serba empiris

Banyuwangi — Tim peneliti MoRA The Airfund 2025 mengikuti salah satu rangkaian kegiatan Petik Laut Muncar 2026 di kawasan pesisir Muncar, Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengamatan lapangan dalam riset bertajuk “Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ruang Domestik dan Publik: Gender, Pendidikan, Kepemimpinan, Tradisi Bekerja, Digitalisasi, dan Perubahan Sosial di Tengah Kontestasi Otoritas Keagamaan

Banyuwangi — Tim riset MoRA The Airfund 2025 yang terdiri dari Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, selaku ketua tim, Dr. Pardianto, M.Si, Wahyu Ilaihi, MA., Ph.D., Moch. Khoirul Anam, M.Li; Mevy Eka Nurhalizah, M.Sos; dan Nur Hasib, M.T, menggelar Focus Group Discussion atau FGD di wilayah Muncar, Banyuwangi, sebagai bagian dari penelitian bertajuk “Identitas Perempuan

Artikel berjudul “Construction and Comparison of Social Audit on Teseng Profit Sharing Practices in The Bugis Tribe of Indonesia With the Perspective of Sharia Audit and Conventional Audit” merupakan karya Muhammad Aras Prabowo dan Farid F. Saenong. Tulisan ini terbit di Jurnal Ilmiah Islam Futura tahun 2026. Penelitian ini mengkaji bagaimana akuntabilitas beroperasi dalam praktik

Kita telah memasuki era baru, yaitu era Membangun Pendidikan Islam Unggul. Kita bukan lagi bicara memperluas akses pendidikan sebagaimana pada masa yang lalu, akan tetapi fokus kita adalah bagaimana membangun pendidikan unggul. Era sekarang merupakan era kompetisi. Oleh karena itu, maka yang terpenting adalah menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan unggul dalam persaingan di era

Eva Putriya Hasanah Belakangan ini, muncul berbagai pemberitaan yang menyebut bahwa Generasi Z memiliki tingkat kecerdasan atau IQ yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Narasi ini semakin ramai diperbincangkan seiring munculnya berbagai penelitian yang menunjukkan penurunan skor tes kognitif di sejumlah negara. Di media sosial, kesimpulan tersebut sering kali disederhanakan menjadi satu kalimat yang provokatif:

Hari Senin, 22/06/2026, sebenarnya saya harus menguji dalam Ujian Terbuka atas Disertasi yang ditulis oleh Promovendus Lukman Hakim, sebagai promotor dan penguji, akan tetapi waktunya bersamaan dengan acara Haflah Akhirus Sanah pada Yayasan Qarya Jadida di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak Tuban. Jadwal pada acara Haflah ini sudah beberapa kali ditunda, sehingga saat ada undangan untuk

1 2 3 204