Katarsis yang Terlambat: Lelaki Boleh Bercerita
HorizonOleh: Unun Achmad Alimin, M.A
Dosen Bimbingan dan Konseling Islam
UIN Sunan Ampel Surabaya
Belakangan ini, kita sering disuguhkan dengan fenomena remaja yang tingkahnya merugikan diri sendiri, mulai dari melukai diri, anti pati kepada lingkungan, keputusasaan, hingga keputusan yang sangat mengerikan. Banyak orang yang bertanya, “Kenapa bisa demikian?” dan pertanyaan tersebut dilatar belakangi oleh rasa penasaran, bahkan ketakutan mereka, jika hal semacam itu terjadi pada salah satu keluarganya atau anaknya. Namun, apabila kita telaah lebih mendalam, pertanyaan yang lebih penting adalah “apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia seperti itu?” sebab, bisa jadi dia sudah melalui banyak peristiwa yang menyakitkan, penuh tekanan dan terlalu lama dipendam sampai tidak sanggup menyelesaikan masalahnya.
Dunia seringkali menuntut remaja terutama pada laki-laki untuk menjadi karang yang kuat: tidak boleh retak sedikitpun, apalagi sampai pecah. Perlu kita perhatikan bahwa di balik diamnya seorang laki-laki, sering terdapat rintihan hati yang keras. Ketika masyarakat mendikte dan bahkan menormalisasi bahwa “laki-laki tidak boleh menangis” dan “laki-laki tidak bercerita,” tidakkah disadari, sebenarnya kita perlahan menutup ruang aman mereka dalam menyelamatkan jiwa mereka sendiri. Paradoks maskulinitas secara implisit menciptakan porsi ideal khusus laki-laki. Jika remaja perempuan mungkin lebih ekspresif dalam menunjukkan kesedihan dan itu dianggap wajar, tetapi remaja laki-laki justru sering memanifestasikan depresinya melalui kemarahan, penarikan diri secara ekstrem (antipati), atau perilaku berisiko tinggi asal tidak terlihat lemah dimata dunia. Mereka merasakan harus terlihat \"baik-baik saja\" dimata dunia demi menjaga citra kuat karena tuntutan lingkungan, padahal jiwanya sedang mengalami kekosongan dan rapuh yang sudah berlangsung lama.
Kondisi individu yang merasakan sedih, kosong dan kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas secara terus menerus atau berlangsung lama dengan kurun waktu lebih dari dua minggu, para ahli mengartikan ini adalah indikasi depresi. Kondisi jiwa yang terus merasakan kekosongan sekaligus kesedihan dan berlangsung lama, akan mempengaruhi kesehatan mental individu. Aktivitas sehari-hari jadi terganggu karena tidak ada semangat lagi dalam menjalani hidup dan konsentrasinya tertuju pada persoalan yang ia hadapi, lebih-lebih kondisi tersebut dialami oleh seorang remaja yang kondisi psikologisnya belum matang dan cenderung impuls dalam merespon sebuah kondisi. Energi yang dimiliki dihabiskan hanya untuk fokus pada persoalan yang ia hadapi. Mereka cenderung mengartikan masalah tersebut 10X lebih besar jika dibandingkan dengan usia dewasa, sehingga tidak ada lagi kenyamanan dalam setiap aktivitas.
Kita perlu memahami mengapa usia remaja seringkali mengambil sebuah keputusan yang mengerikan dan cenderung merugikan dirinya sendiri. Kita dapat merujuk pada Teorinya Thomas Joiner yang menyebutkan bahwa keinginan remaja tersebut muncul saat individu merasa benar-benar kesepian (thwarted belongingness) sekaligus menjadi beban bagi orang lain, terutama orang terdekatnya (perceived burdensomeness). Kondisi demikian diperparah dan dinormalisasikan masyarakat dengan konsep \"Maskulinitas Tradisional\" yang menurut Ronald Levant memicu kesulitan laki-laki untuk mengidentifikasi dan mengeksplor emosi dengan kata-kata. Ketidakmampuan mereka dalam mengemas dengan verbal dari rasa sakit yang dialami, ditambah dengan kegagalan menemukan identitas diri yang sebenarnya butuh diterima oleh lingkungan sekitarnya. Seperti dalam teori Erik Erikson mengenai Identity vs Role Confusion memicu keputusasaan remaja yang mendalam berujung pada tindakan impulsif. Sejalan dengan teori gunung es Sigmund Freud yang menuturkan bahwa bisa jadi tindakan yang dilakukan seorang remaja itu adalah kumpulan persoalan-persoalan yang menyakitkan di masa lalu dan berlangsung lama menumpuk, di kemudian waktu bisa terjadi ledakan yang hebat, karena jiwa tidak kuat lagi menopang beban berat dan ledakan itu diwujudkan dengan tindakan impulsif yang merugikan dirinya sendiri.
Kondisi psikologis remaja yang tertekan berlangsung lama bukanlah hal yang biasa, melainkan luka yang suatu saat bisa menjadi boomerang jika tidak segera dikeluarkan (katarsis). Kondisi sedih dan kosong bahkan rapuh yang terus-menerus ini sering kali tidak terdeteksi, karena remaja laki-laki sudah cukup \"pandai\" menyembunyikannya di balik aktivitas fisik atau aktivitas lainnya. Ketidakmatangan psikologis membuat mereka tidak memiliki mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang sehat. Akibatnya, ketika konsentrasi mereka sudah sepenuhnya tersita oleh rasa sakit yang mendalam, keputusan merugikan diri sendiri dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk menghentikan \"suara-suara\" penderitaan di jiwa mereka. Oleh karena itu, kita perlu berbalik arah dalam membangun narasi: menjadi laki-laki bukan berarti harus menanggung beban sendirian, menjadi laki-laki itu boleh menceritakan segala persoalan hidupnya. Mengatakan keterpurukannya adalah bentuk keberanian tertinggi, sehingga kita perlu mulai membuka ruang aman untuk mereka bicara sebelum diamnya mereka berubah menjadi berita duka di kemudian hari. Mari kita mulai dengan bertanya, bukan sekadar \"Apa kegiatanmu hari ini?\" melainkan \"Bagaimana kabar hatimu hari ini?\"
Secara implisit melalui pertanyaan sederhana itu, kita sedang menghancurkan karang maskulinitas toxic yang selama ini dianggap kokoh dan juga menjadi penjara bagi mereka. Kita perlu mengaplikasikan tiga langkah nyata ini agar tercipta lingkungan yang ramah dan aman untuk perkembangan psikologis remaja. Pertama, yaitu mendengar (listening) tanpa menghakimi dengan cara menahan ego kita untuk tidak cepat menasihati saat mereka sudah mulai terbuka. Kedua, memvalidasi emosi (emotional validation) dan isi pikiran dengan meyakinkan bahwa merasa rapuh, terpuruk sampai menangis tidak akan mengurangi sisi lelaki mereka. Ketiga, menyediakan ruang aman (safe space) di rumah, sekolah, lingkungan pertemanan maupun ruang konseling agar rahasia mereka tetap terjaga tanpa ada rasa takut sedikitpun terkait kelemahan tersebut dijadikan senjata untuk meremehkan mereka di kemudian hari. Mengubah narasi ini memang tidak instan, karena memang banyak sekali yang belum memahami kondisi remaja dan belum paham pentingnya membangun tiga langkah nyata. Lalu, kita perlu berpikir, bahwa menyelamatkan satu jiwa remaja laki-laki dari kehampaannya jauh lebih berharga daripada mempertahankan stigma atau mitos yang keliru tentang lelaki yang harus selalu sekokoh karang, karena pada akhirnya laki-laki juga manusia yang memiliki jiwa dan lelaki boleh bercerita.

