(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Mengejar Bayangan di Terang Mentari

Horizon

Oleh: Sokhi Huda

(Guru Besar Dakwah Sufistik FDK UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Di tengah derasnya arus digital, layar ponsel kini menjadi ruang baru perebutan perhatian. Apa pun dapat tampil, menyebar, lalu menjadi perbincangan dalam hitungan jam. Dakwah pun tidak berada di luar arus ini. Media sosial, kanal video, dan berbagai platform daring telah membuka peluang yang luas bagi penyebaran pesan-pesan keagamaan. Namun bersamaan dengan itu, hadir pula godaan yang tidak kecil: keinginan untuk terus terlihat, terus dibicarakan, dan terus berada di pusat perhatian publik.

  

Dalam suasana seperti ini, dakwah berhadapan dengan pertanyaan penting: apakah tujuannya masih menyampaikan kebenaran dan membimbing umat, ataukah perlahan bergeser menjadi upaya meraih pengakuan? Pertanyaan ini relevan karena di ruang digital, ukuran keberhasilan sering kali tidak lagi ditentukan oleh kedalaman makna, melainkan oleh angka-angka yang tampak di permukaan: jumlah tayangan, tanda suka, komentar, dan sebaran konten. Sesuatu yang ramai dianggap berhasil, sedangkan yang sunyi sering dinilai kurang menarik, meskipun belum tentu demikian.

  

Dalam perspektif tasawuf, gejala seperti ini dapat dibaca sebagai keterpesonaan pada sesuatu yang tampak, tetapi mudah menghilang. Ketenaran digital sering menyerupai bayangan di terang mentari: tampak dekat, mengundang untuk dikejar, tetapi justru memendek, berpindah, bahkan lenyap ketika keadaan berubah. Seseorang dapat dipuji hari ini, lalu dilupakan esok. Sebuah konten dapat viral seketika, tetapi cepat pula tenggelam tanpa meninggalkan pengaruh yang berarti.

  

Tulisan ini tidak hendak menolak dakwah digital. Media digital merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak mungkin dihindari. Yang perlu ditata bukan kehadirannya, melainkan arah dan ruhnya. Dakwah harus tetap hadir di ruang digital, tetapi kehadirannya perlu ditopang oleh keikhlasan, kedalaman, dan tanggung jawab moral. Tanpa itu, dakwah mudah berubah menjadi pertunjukan citra yang riuh, tetapi rapuh.

  

 Bayangan Popularitas dan Krisis Makna

  

Salah satu ciri paling menonjol dari era digital adalah cepatnya perubahan perhatian publik. Hari ini satu tokoh menjadi pusat sorotan, esok perhatian bergeser kepada tokoh lain. Hari ini potongan ceramah menyebar luas, beberapa waktu kemudian ia dilupakan oleh gelombang informasi berikutnya. Dalam lanskap seperti itu, popularitas menjadi sesuatu yang cair. Ia datang cepat, tetapi juga hilang cepat.

  


Baca Juga : Bjorka: Pahlawan atau Kriminal?

Kondisi ini melahirkan godaan tersendiri bagi para pelaku dakwah. Ketika ruang digital sangat menghargai visibilitas, orang terdorong untuk terus tampil dan mempertahankan relevansi. Pada titik tertentu, dorongan ini dapat menggeser orientasi: dari menyampaikan pesan menjadi menjaga eksistensi, dari membina umat menjadi mempertahankan sorotan. Dakwah lalu berisiko tidak lagi sepenuhnya berpusat pada amanah keilmuan dan tanggung jawab spiritual, tetapi ikut digerakkan oleh kecemasan untuk tetap diperhatikan.

  

Padahal, kebermaknaan tidak selalu berjalan seiring dengan keramaian. Banyak hal yang ramai, tetapi tidak mendalam. Sebaliknya, banyak hal yang sunyi, tetapi justru meninggalkan bekas yang lebih tahan lama. Dalam konteks dakwah, yang paling penting bukan seberapa sering seseorang muncul di hadapan publik, melainkan seberapa jauh pesannya membantu orang mendekat kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan menata hidup dengan lebih sadar.

  

 Keikhlasan sebagai Inti Dakwah

  

Tasawuf menempatkan hati sebagai pusat seluruh gerak amal. Yang dinilai bukan hanya bentuk lahiriah tindakan, tetapi juga arah batin yang melandasinya. Dalam kerangka ini, dakwah tidak cukup diukur dari kefasihan berbicara, kemampuan mengemas pesan, atau keluwesan memanfaatkan media. Semua itu penting, tetapi bukan inti. Intinya tetap terletak pada niat: untuk siapa dakwah dilakukan, dan sejauh mana pelakunya menjaga hati dari kepentingan diri.

  

Keikhlasan bukan perkara ringan. Ia bukan sekadar ucapan bahwa semua dilakukan karena Allah, melainkan latihan batin untuk membebaskan diri dari riya’ (pamer), ujub (merasa hebat), dan ketergantungan pada pujian manusia. Dalam ruang digital, ujian ini justru menjadi lebih rumit. Setiap respons publik hadir secara cepat dan kasatmata. Angka tayangan, komentar, dan pengikut dapat dengan mudah memengaruhi perasaan seseorang. Tanpa pengendalian batin, semua itu dapat menggeser niat secara halus.

  

Seorang pendakwah dapat saja memulai dengan niat yang baik, tetapi perlahan menjadi sangat peka terhadap penerimaan audiens. Ia mulai gelisah ketika jangkauan menurun, kecewa ketika respons tidak sebesar harapan, atau terlalu senang ketika mendapat pujian luas. Dalam situasi seperti ini, dakwah masih berlangsung, tetapi ruang batin di baliknya sudah berubah. Ia tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada pengabdian, melainkan mulai bercampur dengan kebutuhan akan pengakuan.

  

Di sinilah tasawuf menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa kebersihan hati sama pentingnya dengan kejernihan pesan. Bahkan, dalam banyak hal, hati yang bersih justru menjadi sumber utama lahirnya dakwah yang menenangkan dan membimbing.

  

 Tantangan Budaya Viral


Baca Juga : Hiruk Pikuk MUI

  

Budaya viral memiliki logikanya sendiri. Ia menyukai hal-hal yang cepat, singkat, tajam, emosional, dan mudah dibagikan. Akibatnya, ruang digital sering memberi tempat lebih besar kepada konten yang mengejutkan daripada yang meneduhkan, kepada yang memantik reaksi daripada yang mengundang perenungan.

  

Di tengah keadaan itu, dakwah menghadapi tantangan yang serius. Agar diperhatikan, seseorang dapat tergoda menyederhanakan persoalan agama yang sebenarnya kompleks. Agar mudah viral, konten keagamaan dapat dikemas secara terlalu sensasional. Agar cepat menarik emosi, bahasa yang dipakai mungkin dibuat lebih keras dan lebih memecah. Semua ini mungkin efektif dalam logika distribusi digital, tetapi belum tentu sehat dalam logika pembinaan umat.

  

Risikonya adalah pergeseran dari pendidikan menjadi impresi. Masyarakat memperoleh potongan-potongan pesan agama, tetapi tidak selalu memperoleh kedalaman konteks. Mereka menerima slogan, tetapi belum tentu pemahaman. Mereka mendapatkan dorongan emosi, tetapi belum tentu tuntunan yang matang. Dalam keadaan seperti itu, dakwah memang tampak bergerak cepat, tetapi belum tentu bergerak jauh.

  

 Menata Arah Dakwah Digital

  

Karena itu, dakwah digital perlu dikembalikan pada substansinya: menyampaikan nilai-nilai Islam secara jernih, mendidik, dan menumbuhkan kedewasaan rohani. Ukuran keberhasilannya tidak cukup ditentukan oleh tingginya jangkauan, tetapi oleh hadirnya perubahan yang lebih bermakna dalam diri audiens: bertambahnya pemahaman, menguatnya akhlak, dan tumbuhnya kedekatan kepada Allah.

  

Ke depan, ada beberapa hal yang patut diteguhkan. Pertama, para pelaku dakwah perlu membangun tradisi muhasabah (koreksi diri) yang lebih kuat. Sebelum bertanya apakah sebuah konten akan ramai, lebih penting bertanya apakah ia benar, bermanfaat, dan lahir dari niat yang lurus.

  

Kedua, dakwah di ruang digital perlu lebih berwatak pembinaan daripada sekadar penampilan. Seri kajian tematik, pembacaan kitab secara bertahap, forum tanya jawab yang teduh, dan pembahasan akhlak yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mungkin tidak selalu spektakuler, tetapi jauh lebih membina dalam jangka panjang.

  

Ketiga, ukuran keberhasilan dakwah perlu disehatkan. Yang dinilai bukan hanya jumlah pengikut atau penonton, tetapi juga kualitas interaksi dan kedalaman pengaruhnya terhadap pembentukan sikap hidup. Dengan cara ini, energi dakwah tidak habis untuk mengejar angka, melainkan diarahkan pada penciptaan manfaat nyata.

  

Pada akhirnya, dakwah di ruang digital perlu terus diarahkan kepada sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar sorot sesaat. Popularitas boleh datang, tetapi ia tidak semestinya menjadi pusat orientasi. Ia hanya mungkin menjadi akibat dari kualitas isi dan ketulusan ikhtiar, bukan tujuan yang dikejar tanpa henti.

  

Di tengah budaya digital yang serba cepat, dakwah justru perlu hadir sebagai ruang yang menenangkan. Ia harus menjadi sumber tuntunan, bukan sekadar tontonan. Ia harus membantu manusia mendekat kepada nilai, bukan sekadar membiasakan mereka hidup dalam arus reaksi yang tak selesai. Dengan orientasi semacam itu, dakwah tidak lagi sibuk mengejar bayangan ketenaran, melainkan berdiri teguh dalam cahaya makna yang lebih hakiki. Dan pada akhirnya, yang paling dibutuhkan umat memang bukan sekadar suara yang ramai, melainkan cahaya yang menuntun.