(Sumber : promt AI)

Potret Gen-Z dan Literasi

Horizon

Muhammad Izzul Islam An Najmi

Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

   

Di era digital saat ini, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang tidak pernah lepas dari layar. Mereka adalah “digital native” yang sejak kecil sudah akrab dengan smartphone, media sosial, dan internet. Namun, di balik kemudahan akses informasi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah minat literasi Gen Z benar-benar menurun?

  

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Gen Z memang memiliki kecenderungan kuat terhadap konten visual, terutama video pendek seperti Instagram Reels, YouTube Shorts, dan TikTok. Bahkan, sebagian besar Gen Z mengaku lebih memilih menonton video daripada membaca teks panjang. Hari ini, banyak Gen Z lebih akrab dengan video singkat seperti Instagram Reels, YouTube Shorts, atau TikTok. Konten berdurasi 15–60 detik terasa lebih menarik dibandingkan membaca artikel panjang atau buku. Bahkan, survei menunjukkan sekitar 71% Gen Z lebih memilih menonton video daripada membaca materi teks (Buzzetto-Hollywood et al., 2021).

  

Tidak hanya soal preferensi, data juga menunjukkan adanya penurunan minat baca. Studi survei terhadap pelajar dan mahasiswa menemukan bahwa kecenderungan membaca mengalami penurunan yang cukup signifikan dan menjadi masalah yang perlu segera diatasi. Bahkan dalam skala yang lebih luas, penelitian lain menunjukkan bahwa aktivitas membaca untuk kesenangan terus menurun dari tahun ke tahun. Kebiasaan ini tidak lepas dari intensitas penggunaan media sosial. Gen Z diketahui menghabiskan lebih dari beberapa jam setiap hari di platform digital, dengan fokus utama pada hiburan visual. Akibatnya, perhatian menjadi lebih singkat dan kecenderungan untuk membaca teks panjang semakin menurun.

   

Fenomena ini tidak lepas dari perubahan pola konsumsi media. Gen Z menghabiskan berjam-jam setiap hari di media sosial, dengan fokus utama pada hiburan dan konten visual. Akibatnya, perhatian mereka cenderung terbagi dan lebih pendek, sehingga membaca teks panjang terasa lebih melelahkan dibandingkan menonton video singkat. Namun, menyimpulkan bahwa Gen Z “malas membaca” mungkin terlalu sederhana. Faktanya, literasi mereka justru mengalami transformasi. Banyak Gen Z tetap membaca, tetapi dalam bentuk yang berbeda—seperti caption, thread, atau konten digital interaktif. Bahkan, media sosial juga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan literasi melalui komunitas membaca online dan konten edukatif.

  

Selain itu, media sosial juga memengaruhi cara mereka mengonsumsi informasi. Banyak Gen Z mendapatkan berita dari platform seperti Instagram, tetapi sering kali kesulitan memverifikasi kebenaran informasi tersebut (Andriany & Triwardhani, 2025). Ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan hanya soal minat membaca, tetapi juga kemampuan memahami dan mengolah informasi.

  

Kesimpulannya, rendahnya minat baca Gen Z tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar dalam cara mereka mengakses informasi. Video pendek memang mendominasi, tetapi literasi tidak benar-benar hilang, ia hanya bertransformasi. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjembatani dunia visual yang disukai Gen Z dengan budaya membaca yang tetap penting. Pada akhirnya, potret Gen Z dan literasi adalah tentang perubahan, bukan sekadar penurunan. Generasi ini tidak meninggalkan literasi, tetapi mengubah cara mereka berinteraksi dengan informasi. Tantangan kita adalah bagaimana menyesuaikan pendekatan literasi agar tetap relevan di tengah budaya serba cepat yang mereka jalani.