Desa dan Pengelolaan Sampah Makanan
InformasiEva Putriya Hasanah
Hari ini, sampah makanan menjadi salah satu permasalahan lingkungan terbesar di dunia. Ironisnya, di saat jutaan orang masih kesulitan mendapatkan makanan, banyak makanan justru berakhir di tempat sampah.
Laporan UNEP Food Waste Index Report 2024 menyebutkan bahwa dunia membuang lebih dari 1 miliar porsi makanan setiap hari. Bahkan sekitar 19% makanan yang tersedia secara global berakhir menjadi limbah. (UNEP - Program Lingkungan PBB)
Sampah makanan bukan sekedar soal makanan yang terbuang. Ketika menumpuk di tempat pembuangan akhir, sampah organik menghasilkan gas metana yang memperparah pemanasan global. Persoalan ini semakin besar di kota-kota modern yang pola konsumsinya tinggi tetapi hubungan manusia dengan sumber pangannya semakin jauh.
Namun menariknya, jika melihat kehidupan masyarakat desa dulu, konsep “sampah makanan” sebenarnya tidak sebesar hari ini. Sebab bagi orang desa, sisa makanan jarang benar-benar berakhir menjadi sampah.
Sisa Nasi untuk Ayam, Sisa Sayur untuk Bebek
Baca Juga : Maqashid al-Suwar: Ali 'Imran (Bagian Kedua)
Di banyak desa, makanan yang tidak habis biasanya masih memiliki fungsi lain. Nasi sisa diberikan ke ayam. Sayur yang tersisa bisa menjadi pakan bebek atau kambing. Kulit buah, dedaunan, dan sisa dapur lainnya sering dikumpulkan untuk ternak atau dibuang ke kebun agar terurai menjadi pupuk alami. Artinya, ada siklus yang berjalan alami dalam kehidupan masyarakat desa.
Manusia makan, sisanya diberikan kepada hewan ternak, lalu kotoran ternak kembali dimanfaatkan untuk pupuk sawah atau kebun. Dari kebun itu, tumbuh lagi bahan makanan untuk manusia. Apa yang hari ini disebut ekonomi sirkuler atau ekonomi sirkular sebenarnya telah lama hidup dalam praktik sederhana masyarakat desa. Mereka mungkin tidak mengenal istilah akademiknya, tetapi mereka menjalankan prinsipnya setiap hari.
Dulu Orang Desa Hampir Tidak Mengenal Sampah Makanan
Berbeda dengan kehidupan modern yang serba instan, masyarakat desa dulu terbiasa memasak secukupnya. Makanan diolah sesuai kebutuhan keluarga hari itu. Kalau masih tersisa, biasanya tidak langsung dibuang. Selalu ada cara untuk memanfaatkannya kembali. Bahkan makanan dasar pun sering kali masih dipakai untuk pakan ternak.
Oleh karena itu, volume sampah makanan di desa jauh lebih sedikit dibandingkan kehidupan perkotaan yang penuh dengan konsumsi daya yang berlebihan.
Hari ini banyak orang membeli makanan dalam jumlah besar, tetapi tidak semuanya dimakan. Restoran menyajikan porsi berlebihan. Acara-acara besar menghasilkan tumpukan makanan sisa. Di rumah tangga, makanan sering basi di kulkas karena lupa dimakan.
Modernitas membuat manusia semakin mudah membeli makanan, namun juga semakin mudah membuangnya.
Hubungan Dekat dengan Ternak Membuat Sampah Berkurang
Baca Juga : Dari Perbincangan Menteri Agama dengan Tim Sebelas Plus (Bagian Satu)
Salah satu alasan mengapa sampah makanan dulu lebih sedikit adalah karena banyak keluarga desa memelihara ternak sendiri. Ayam kampung, bebek, kambing, atau sapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hewan-hewan itu bukan hanya sumber telur atau daging, tetapi juga “pengolah alami” sisa makanan rumah tangga.
Hari ini, ketika kehidupan semakin urban, hubungan seperti itu mulai hilang. Banyak orang tinggal di jalan sempit tanpa ruang untuk ternak atau kebun. Akibatnya, hampir semua sisa makanan langsung masuk ke kantong sampah. Padahal sebenarnya banyak limbah organik yang masih bisa dimanfaatkan.
Dari Kotoran Ternak Menjadi Pupuk
Yang menarik, siklus itu tidak berhenti dalam peternakan. Kotoran hewan kemudian dipakai menjadi pupuk alami untuk sawah dan kebun. Jadi, limbah dari satu proses menjadi sumber kehidupan untuk proses lainnya.
Oleh karena itu, pertanian masyarakat desa dulu cenderung lebih alami. Sayuran tumbuh dengan pupuk kandang, ayam makan dari sisa dapur dan lingkungan sekitar, sementara hasil kebun kembali dikonsumsi keluarga.
Mungkin hasilnya tidak sebanyak industri modern, tetapi pola kehidupan seperti ini jauh lebih dekat dengan konsep ekosistem lingkungan.
Ketika Makanan Dihargai, Sampah Tidak Mudah Menumpuk
Cara masyarakat desa mengelola sisa makanan sebenarnya tidak lahir begitu saja. Adanya cara pandang hidup yang membuat mereka terbiasa tidak mudah membuang makanan.
Bagi banyak orang desa dulu, makanan adalah hasil kerja yang panjang. Ada proses menanam, memanen, merawat ternak, hingga memasak yang membuat makanan terasa sangat berharga. Oleh karena itu, membuang makanan dalam jumlah banyak sering dianggap tidak baik dan terasa “eman”. Kesadaran seperti ini membuat masyarakat desa terbiasa memanfaatkan makanan semaksimal mungkin.
Kalau nasi masih layak dimakan, biasanya akan diolah kembali menjadi nasi goreng atau dimakan keesokan harinya. Jika sudah tidak layak dikonsumsi, nasi diberikan ke ayam atau bebek. Sisa sayur menjadi pakan ternak, sementara kulit buah dan sisa dapur lainnya dibuang ke kebun agar terurai secara alami. Artinya, hampir tidak ada yang benar-benar berakhir sia-sia.
Cara hidup seperti ini mungkin terlihat sederhana dan tradisional. Tetapi justru di tengah persoalan sampah makanan global hari ini, pola pikir tersebut terasa semakin relevan. Penyebab masalah utama limbah makanan sebenarnya bukan hanya soal banyaknya makanan yang dibuang, tetapi juga tentang cara kerjanya manusia modern mulai kehilangan kesadaran untuk menghargai makanan itu sendiri.

