(Sumber : CNN INDONESIA )

Mengenal Modus Penipuan 'Silent Call', Panggilan Tanpa Suara yang Perlu Diwaspadai

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

   

Fenomena panggilan telepon tanpa suara atau silent call belakangan semakin sering dialami masyarakat. Panggilan ini umumnya berasal dari nomor tidak dikenal, berlangsung singkat, dan tidak disertai percakapan apa pun. Sekilas terlihat seperti gangguan jaringan atau salah sambung, namun sejumlah pihak menilai praktik ini dapat menjadi bagian dari modus penipuan digital yang lebih luas.

   

Silent call merupakan teknik yang digunakan pelaku kejahatan siber untuk mengidentifikasi nomor telepon yang aktif. Dalam praktiknya, pelaku tidak memerlukan interaksi langsung dengan korban. Respons sederhana seperti mengangkat telepon atau mengucapkan “halo” sudah cukup untuk menandai bahwa nomor tersebut digunakan.

   

Setelah nomor dinyatakan aktif, data tersebut berpotensi dimasukkan ke dalam basis data target. Tahap ini sering disebut sebagai proses validasi awal, sebelum pelaku melancarkan bentuk penipuan lain yang lebih kompleks, seperti phishing , penipuan berbasis pesan singkat, atau rekayasa sosial melalui aplikasi percakapan.

   

Selain validasi nomor, silent call juga diduga dapat dimanfaatkan untuk mengamati pola perilaku pengguna. Misalnya, waktu-waktu tertentu ketika seseorang cenderung mengangkat telepon. Informasi ini memungkinkan pelaku menentukan waktu yang dianggap paling efektif untuk melakukan upaya penipuan lanjutan.

   

Dalam beberapa kasus, terdapat juga kekhawatiran terkait kemungkinan terekamnya suara korban. Dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan, rekaman suara singkat dapat disalahgunakan untuk membuat suara tiruan (voice cloning) . Teknologi ini berpotensi digunakan dalam skenario penipuan yang melibatkan penyamaran sebagai orang terdekat yang menjadi korban.

   

Modus silent call juga kerap dikaitkan dengan praktik penipuan lain, seperti wangiri scam . Pada skema ini, korban menerima panggilan dari nomor asing, biasanya dengan kode internasional. Jika korban menelepon balik, panggilan tersebut dapat terhubung ke layanan berbiaya tinggi, sehingga menimbulkan kerugian finansial.


Baca Juga : Strategi Dakwah Gulen Movement

   

Pengamat keamanan digital menilai bahwa keberhasilan modus ini tidak lepas dari faktor psikologis. Rasa penasaran menjadi salah satu pemicu utama seseorang untuk merespons panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Dalam konteks ini, pelaku memanfaatkan kebiasaan masyarakat yang cenderung menganggap semua panggilan sebagai sesuatu yang penting.

    

Risiko yang ditimbulkan dari silent call tidak dapat dianggap remeh. Selain berpotensi menjadikan nomor sebagai target penipuan, korban juga dapat menghadapi ancaman pencurian data, identitas, hingga kerugian finansial akibat skema lanjutan.

   

Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menanggapi panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah tidak langsung mengangkat panggilan jika nomor terlihat mencurigakan. Apabila panggilan terlanjur diangkat dan tidak ada suara, disarankan untuk tidak memberikan respon verbal.

   

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak menelepon balik nomor asing yang tidak jelas identitasnya. Penggunaan aplikasi pendeteksi nomor spam serta fitur pemblokiran panggilan pada perangkat telepon seluler juga dapat menjadi langkah pencegahan tambahan.

   

Fenomena silent call menunjukkan bahwa kejahatan digital terus berkembang dengan memanfaatkan celah kecil dalam perilaku pengguna. Oleh karena itu, kewaspadaan dan literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan yang semakin beragam.

   

Di tengah meningkatnya penggunaan teknologi komunikasi, sikap selektif terhadap panggilan masuk menjadi langkah sederhana namun penting untuk melindungi diri dari potensi kejahatan siber.