(Sumber : Wikipedia )

Pemikiran Prof. Anna Tsing tentang Alam, Modernitas, dan Masyarakat Adat

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

   

Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, banjir datang lebih sering, cuaca semakin sulit diprediksi, dan hutan terus menyusut atas nama pembangunan. Di saat yang sama, manusia modern justru semakin jauh dari alam. Kita hidup di era teknologi tinggi, tetapi sering kali kehilangan cara paling dasar untuk hidup berdampingan dengan lingkungan.

   

Pertanyaan besar pun muncul: masih adakah alternatif cara hidup yang lebih bijak untuk menjaga bumi?

   

Bagi Anna Lowenhaupt Tsing, jawabannya bisa ditemukan dengan belajar dari masyarakat adat. Antropolog asal Amerika Serikat yang mengajar di University of California, Santa Cruz ini dikenal luas melalui kajian-kajiannya tentang hubungan manusia, alam, kapitalisme, dan kerusakan lingkungan.

   

Melalui berbagai penelitiannya, Anna Tsing mengajak dunia untuk melihat bahwa masyarakat adat bukanlah kelompok “tertinggal” yang harus diselamatkan oleh modernitas. Sebaliknya, mereka justru menyimpan pengetahuan penting tentang bagaimana manusia dapat hidup tanpa merusak ekosistem tempatnya berpijak.

   

Konservasi Sudah Ada Sebelum Istilah Itu Populer

   

Dalam banyak diskusi modern, konservasi sering dipahami sebagai konsep ilmiah yang lahir dari lembaga internasional, kebijakan negara, atau organisasi lingkungan. Namun, menurut Anna Tsing, praktik menjaga alam sebenarnya telah hidup jauh sebelum istilah “konservasi” dikenal dunia.


Baca Juga : Transformasi Sejarah Kristen dan Islam

   

Masyarakat adat selama ratusan tahun memiliki cara tersendiri dalam memperlakukan hutan, sungai, laut, dan tanah. Mereka memahami batas-batas alam, tahu kapan harus mengambil hasil bumi, dan kapan harus dikembalikan. Alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dilindungi bersama.

   

Cara pandang seperti ini berbeda dengan logika kapitalisme modern yang sering mengukur alam hanya dari nilai ekonomi. Hutan dihitung berdasarkan keuntungan kayu, laut diukur dari hasil tangkapan, dan tanah dipandang sebatas aset investasi. Akibatnya, hubungan manusia dengan lingkungan berubah menjadi hubungan eksploitasi.

   

Anna Tsing justru melihat bahwa masyarakat adat memiliki hubungan yang lebih setara dengan alam. Mereka hidup bukan di atas alam, tetapi bersama alam.

   

Ketika Modernitas Justru Membiarkan Kerusakan

   

Salah satu pemikiran penting Anna Tsing muncul dalam buku terkenalnya, The Mushroom at the End of the World. Dalam buku tersebut, ia menggunakan jamur matsutake sebagai simbol kehidupan ekologi yang tetap tumbuh di tengah kerusakan akibat kapitalisme global.

   

Melalui pendekatan antropologi yang unik, Anna Tsing menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan rapi seperti yang dibayangkan modernitas. Dunia hari ini justru dipenuhi dengan topik: krisis lingkungan, pekerjaan yang tidak stabil, dan kerusakan sosial yang terus meluas.

    

Di tengah situasi itu, masyarakat adat sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak. Hutan adat berubah menjadi kawasan industri, tanah dirampas atas nama investasi, dan pengetahuan lokal kadang-kadang dianggap tidak relevan.

   


Baca Juga : Gen Z, Tingkepan, dan Realita bahwa Tradisi Nggak Bisa Dipaketkan

Padahal ironisnya, ketika dunia mulai panik menghadapi perubahan iklim, banyak solusi yang dicari justru mirip praktik hidup yang sejak lama dijalankan masyarakat adat: hidup berkecukupan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan tidak mengambil sumber daya secara berlebihan.

   

Masyarakat Adat dan Pengetahuan yang Sering Diremehkan

   

Selama bertahun-tahun, masyarakat adat sering ditempatkan sebagai kelompok pinggiran dalam pembangunan. Pengetahuan mereka dianggap tradisional, tidak ilmiah, bahkan ketinggalan jaman. Namun Anna Tsing menolak cara pandang tersebut.

   

Ia menilai bahwa pengetahuan lokal memiliki nilai penting karena lahir dari pengalaman panjang hidup bersama alam. Pengetahuan itu bukan sekedar teori, tapi praktik nyata yang diwariskan lintas generasi.

   

Di berbagai wilayah di dunia, masyarakat adat memiliki aturan adat tentang pembukaan lahan, larangan pengambilan hasil hutan tertentu, hingga tata cara menjaga sumber air. Semua itu menunjukkan bahwa berkelanjutan bukanlah konsep baru bagi mereka.

   

Oleh karena itu, memperjuangkan hak-hak masyarakat adat tidak hanya soal keadilan sosial, tetapi juga tentang masa depan lingkungan hidup. Ketika wilayah adat dirusak, bukan hanya identitas budaya yang hilang, tetapi juga pengetahuan ekologis yang sangat berharga.

   

Belajar Rendah Hati ke Alam

   

Pemikiran Anna Tsing mengingatkan kita bahwa manusia modern sering merasa paling pintar dalam mengatur dunia. Kita membangun teknologi canggih, menciptakan industri besar, dan mempercepat segala hal. Namun dalam prosesnya, itu juga menghasilkan kerusakan yang tidak sedikit.

   

Mungkin sudah waktunya manusia belajar kembali untuk rendah hati kepada alam.

   

Masyarakat adat menunjukkan bahwa menjaga bumi tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah kesadaran sederhana bahwa manusia hanyalah satu bagian kecil dari jaringan kehidupan yang lebih besar.

    

Di tengah kerusakan alam dan pemanasan global hari ini, perspektif tersebut terasa semakin relevan. Bahwa masa depan bumi mungkin tidak hanya bergantung pada inovasi modern, tetapi juga pada kemampuan manusia untuk kembali mendengar pengetahuan lama yang selama ini diabaikan.