Adaptasi PTKIS di Pesantren Pada Era Teknologi Digital: IAIMU Lumajang
OpiniHal yang harus diinjeksikan kepada semua pelaku pendidikan adalah masa depan. Bukan masa depan PTKIS berbasis pesantren.Tetapi PTKIS berbasis pesantren masa depan. Masa depan PTKIS berbasis pesantren itu mempertanyakan bagaimana masa depannya: baik atau jelek. Maju atau mundur.PTKIS berbasis pesantren masa depan berarti memprediksi bahwa PTKIS harus baik, berkualitas dan maju. Keduanya sama mempertanyakan masa depan, tetapi titik fokusnya yang berbeda.
Inilah pengantar saya dalam pertemuan Lecture Recharging, pada Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIMU) Lumajang, pada 21/05/2026. Acara ini dihadiri oleh Mohammad Hisan, Rektor IAIMU Lumajang, para pejabat Warek I,II dan III, para dekan dan dosen serta mahasiswa. Pertemuan yang diselenggarakan di ruang aula IAIMU dan berlangsung dengan sangat dinamis.
Peluang PTKIS berbasis pesantren sangat memadai. Disebabkan oleh penguasaan atas bahasa Arab sangat baik. Penguasaan atas Kitab-kitab turats yang telah mentradisi. SDM berbasis Ilmu turats yang melimpah. Pengembangan ilmu keislaman berbasis monodisipliner yang kuat. Pengembangan ilmu keislaman bercorak kontinuitas yang kuat. Lingkungan pendidikan yang kondusif. Lalu pembelajaran dilakukan lebih banyak durasinya. Serta menyerasikan antara pengetahuan agama dan pengamalan beragama.
Pendidikan Islam mengkaji ilmu keislaman berbasis pada penalaran dan empiris atau epistemologi bayani (teks), burhani (rasional) dan tajribi (empiris). Epistemologi bayani bertujuan mengkaji teks dengan menggunakan metodologi kajian teks. Memanfaatkan sumber-sumber teks yang tersedia. Serba teks. Analisis teks yang bercorak monodisipliner atau integrasi ilmu. Jika baru memiliki program sarjana maka menggunakan pendekatan monodisipliner dan jika sudah memiliki program magister dan doktor harus menggunakan pendekatan interdisipliner (antar bidang/cabang), crossdisipliner (lintas bidang/cabang), multidisipliner (banyak bidang/cabang yang diitegrasikan) dan transdisipliner (melampaui bidang/cabang). Para dosen harus menguasai berbagai pendekatan ini agar program pembelajaran akan menghasilkan produk yang unggul.
Epistemologi burhani digunakan untuk mengkaji fenomena sosial keislaman yang bercorak empiris rasional. Serba empiris. Fenomena sosial keislaman tersebut dapat dikaji dengan pendekatan monodisipliner bagi program sarjana. Fenomena sosial keislaman tersebut dapat dikaji dengan pendekatan integratif atau interdisipliner, crossdisipliner, multidisipliner adan transdisipliner untuk program magister dan doktor. Perangkat metodologinya dapat menggunakan metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif atau mixed methods dan juga penelitian teks. Dosen harus menguasai metodologi ini secara memadai dengan memahami perubahan-perubahan di era teknologi informasi.
Ada banyak rumpun ilmu yang dikembangkan di PTKI. Rumpun ilmu yang dikembangkan di PTAI, adalah ilmu keislaman, dengan cabang dan ranting sebagai berikut: Ilmu Al-Qur’an ( misalnya: Ilmu Qiraat, Ilmu Asbabun Nuzul, Ilmu Tajwid), Ilmu Tafsir (misalnya Tafsir Bir Ra’yi, Tafsir Bil Ma’Tsur, Tafsir Ilmi), Ilmu Hadits (ilmu Hadits dirayah dan Ilmu Hadits Riwayah). Ilmu Fikih (Fikih ibadah, Fikih munakahat, Fikih muamalah, Fikih tata negara, Fikih muqarin). Ilmu Tasawuf (misalnya Tasawuf Amali, Tasawuf Akhlaki, Tasawuf Falsafi). Ilmu Akhlak (Akhlak Mahmudah dan Akhlak Madzmumah). Ilmu Sejarah Islam (klasik, pertengahan dan modern). Ilmu Filsafat Islam (Aliran Peripatetik/Al Masyaiyah, Iluminasi/Isyaraqiyah, Teosofi Transendental /Hikmah Mutaliyah/ dan Teologi Filosofis). Ilmu Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Maani, Badi’). Ilmu Sastra Arab (sejarah sastra, teori sastra dan kritik sastra). Ilmu Dakwah (Bil Hal, Bil Kalam, Bil Lisan). Ilmu Tarbiyah (kognisi, behavioral dan konstruksi pendidikan). Ilmu Kalam (Jabariyah, Qadariyah, Mu’Tazilah, Ahli Sunnah Wal Jamaah, Khawarij). Ilmu Falaq (Ilmu Falaq Ilmi dan Ilmu Falaq Amali, trigonometri, astronomi).
Akan tetapi ada beberapa pertanyaan dasar, yaitu: apakah PTKI dan pesantren sudah siap menghadapi era transformasi digital? Atau apakah PTKI berbasis pesantren sudah siap menghadapi era transformasi digital. Jawabannya ternyata “belum”. Banyak PTKI yang belum memasuki arena transformasi digital tersebut. Dalam bidang administrasi, akademik dan program pendidikan masih menggunakan pendekatan konvensional. Kesiapan untuk masuk dalam arena ini masih sangat rendah dibuktikan belum terdapat SDM, infrastruktur dan penganggaran yang memadai untuk pengembangan transformasi digital.
Kita menghadapi era digital dengan indikator: Menguatnya AI, yang dewasa ini AI sudah banyak digunakan oleh para mahasiswa di berbagai PTU maupun PTKIN. Menguatnya Virtual reality, banyak digunakan oleh PTU dan PTKI untuk pembelajaran berbasis online atau hybrid learning. Menguatnya augmented reality, yang digunakan untuk melipat realitas dari berbagai belahan dunia untuk satu kesatuan aktivitas. Big data, sebagai bahan untuk melakukan analisis dengan cepat dan terukur.
Baca Juga : Kala Muhammadiyah Makin Hijau
Perubahan-perubahan ini menuntut atas kesiapan SDM, infrastruktur, dan penganggaran yang memadai. Perlu kebijakan dan pemihakan pimpinan serta kesiapan dosen dan mahasiswa untuk menuju ke era transformasi digital. Apakah PTKIS sudah siap atas perubahan ini? Oleh karena itu, PTKIS harus membuka diri atas intervensi teknologi informasi, khususnya digitalisasi. PTKIS harus membuka diri untuk melakukan pemetaan atas potensi digitalisasi elementer yang bisa dilakukan. PTKIS harus membuka diri untuk melakukan inovasi tentang digitalisasi.
Lalu renungannya adalah dari mana mau kemana? Harus ada kesadaran mana yang urgent dan mana yang necessary. Lakukan analisis kebutuhan, analisis sosial dan analisis implementasinya. Pimpinan pesantren dan pimpinan PTKIS serta dosen yang tahu apa yang dibutuhkan. PTKIS harus membuka diri atas intervensi teknologi informasi, khususnya digitalisasi. PTKIS harus membuka diri untuk melakukan pemetaan atas potensi digitalisasi elementer yang bisa dilakukan. PTKIS harus membuka diri untuk melakukan inovasi tentang digitalisasi.
Penting untuk direnungkan bahwa yang diajarkan oleh pesantren bukan Ilmu keislaman sebagai pengetahuan. Apa yang diajarkan pesantren adalah ilmu keislaman sebagai tindakan atau perilaku, bukan hanya pikir tetapi juga dzikir. Dzikir atas ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah.
PTKIS berbasis pesantren ke depan harus menghasilkan manusia yang berkemampuan untuk menjelaskan fenomena teks, fenomena konteks dan pengamalan berislam. Mengintegrasikan antara ayat-ayat di dalam Al-Qur’an dan hadits (teks Qauliyah) dengan ilmu pengetahuan (sains) atau ayat-ayat kauniyah dan pengamalan beragama.
Trilogi: Teks, Sains dan Amal.
Kita perlu menghadirkan New Baytul hikmah. Di masa lalu Baytul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban yang terjadi pada abad ke VIII sampai XII. Menghasilkan ahli-ahli sains yang menjadi rujukan dunia, sebagai pusat peradaban dunia. Terdapat sebanyak 147 ilmuwan muslim terkemuka, inovator dan simpul peradaban dunia. Kita perlu mengembalikannya dengan cara mengintegrasikan ilmu umum dan agama. Tidak ada pemisahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Keduanya merupakan satu kesatuan integratif.
Di Indonesia sedang terjadi proses integrasi ilmu. Program saling menyapa dan mengintegrasikan antara agama, filsafat dan sains. Harus ada kolaborasi yang penuh dedikasi untuk kepentingan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

