(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Epistemological Integration Pesantren di Era Modernitas

Opini

Direktorat  Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyelenggarakan acara yang menarik dengan tema “Finalisasi Distingsi Direktorat Jenderal Pesantren Melalui Buku Menuju New Baitul Hikmah” yang diselenggarakan di Hotel Mason Paine Bandung,  09-11 April 2026. Acara ini dihadiri oleh Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., Wakil Menteri Agama, Dr. KH. Romo Muhammad Syafi’i, Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Suyitno, Sekjen Kemenag, Prof. Dr. Kamaruddin Amin, Staf Khusus, Dr. Ismail Cawidu, dan Dr. Basnang Said, Direktur Pendidikan Pesantren, serta para pejabat di  Direktorat Pendidikan Pesantren, para kiai dan peserta halaqah. 

  

Sebagai narasumber adalah Begawan Integrasi Ilmu di Indonesia, Prof. Dr. Amin Abdullah, Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, Dr. Haidar Bagir, Prof. Dr. Ajid Thahir, dan saya juga diberi peluang untuk menjadi narasumber. Prof. Amin Abdullah dan Dr. Haidar Bagir menyajikan makalah tentang “Integrasi Sains, Agama dan Filsafat”, Prof. Mulyadi Kertanegara dengan tema “Review Filosofis: Membangun Fondasi New Baitul Hikmah”, saya membahas tentang Epistemologi dan Relevansi Modernisme”. Di dalam artikel ini saya rangkai menjadi judul: “Epistemological Integration  Pesantren pada Era Modernitas”. Prof. Ajid Thahir dengan tema “Pesantren sebagai jangkar peradaban dunia”. 

  

Ada beberapa hal yang saya sampaikan di dalam ceramah saya, yaitu: Pertama,  apresiasi atas pencapaian Kementerian Agama dalam upaya untuk menghadirkan Direktorat Jenderal baru, Direktorat Jenderal Pesantren. Sementara itu, pada hari ini,  juga menghadirkan narasumber yang sangat memadai dan ahli dalam bidang integrasi sains, agama dan filsafat. Dan yang tidak kalah penting adalah sudah menghasilkan draft buku yang merupakan usaha luar biasa untuk mewujudkan distingsi Dirjen Pesantren dalam judul “Menuju New Baitul Hikmah”.

  

Kedua, diperlukan upaya untuk mempertemukan epistemology Ilmu Keislaman, pesantren, dengan epistemology modernitas. Epistemology pesantren seperti epistemology bayani yang mengkaji tentang teks sebagai basis keilmuan. Lalu, epistemology burhani yaitu mengkaji ilmu berdasarkan ratio yang  empiris tentang fenomena yang dikaji. Kemudian epistemology irfani yaitu pendekatan yang digunakan untuk mengkaji fenomena berbasis pada kajian metafisika atau spiritual, dan epistemology dzauqi yaitu pendekatan pengalaman spiritual atau metafisika atas fenomena yang dikaji. 

  

Epistemology modernisme mengedepankan pendekatan rasional, pendekatan sains  dan pendekatan teknologi. Di dalam dunia modern, maka rasio menjadi basis utama di dalam  berbagai kajian ilmu pengetahuan. Di dalam dunia modernitas tersebut, maka tidak lagi dikenal kebenaran berbasis theology dan kebenaran  metafisika dan yang harus dikedepankan adalah kebenaran  positivistik. Salah satu di antara tokohnya adalah Auguste Compte, bahwa ilmu pengetahuan harus memenuhi standrat positivistik, dengan mendeklarasikan ilmu yang berciri khas empiric, verifiable, testable, measurable dan systematic. Tidak ada lagi yang yang namanya metafisika dan  spiritualitas, karena keduanya tidak dapat diverifikasi dan tidak dapat difalsifikasi. Falsifikasi model Karl Popper atau verifikasi model Thomas Kuhn. 

  

Yang diperlukan adalah mengintegrasikan epistemology Ilmu Keislaman dan epistemology Modernitas. Ada literatur menarik ditulis oleh Fathi Hasan Malkawi tentang Epistemological Integration yang membedah mengenai nalar integrasi ilmu.  Integrasi epistemologis ini, misalnya menggabungkan dua epistemology, yaitu epsitemologi  bayani dengan pendekatan rasional, memadu teks dengan rasio, maka akan menghasilkan epistemology ilmu keislaman pesantren integrative, misalnya dengan menggabungkan antara cabang dalam ilmu agama dengan ilmu social melalui  pendekatan hermeunetika atau hermeneutika teks pesantren. Saya   sebut sebagai pendekatan crossdisipliner. Sementara Prof. Amin Abdullah menyebut sebagai interdisipliner. 

  

Pendekatan di dalam epistemology burhani dari dunia pesantren dapat  dipadukan dengan epistemology modernitas (rational, sains dan teknologi), maka akan didapatkan integrasi epistemology yang menghasilkan ilmu alam dan sains  integrative atau ilmu alam dan sains transcendental, ilmu social integrative dan ilmu humaniora integrative. Prof. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai ilmu social profetik. Dan bisa juga terdapat ilmu humaniora profetik. 

  

Pendekatan irfani ala pesantren dapat diintegrasikan dengan epistemology modern, misalnya mengkaji tentang pengalaman religious dari dunia pesantren dengan menggunakan pendekatan empiris dan rasional, seperti rasional transcendental. Di dalam literatur metodologis disebutkan  ada beberapa pendekatan untuk  menemukan kebenaran berbasis empiris rasional, berbasis empiris sensual, berbasis empiris etis dan berbasis empiris transendental. Epistemologi irfani memiliki focus pada pengalaman spiritual yang mendasar, yang berbasis pada pendekatan empiris transcendental. 

  

Untuk memahami epistemology integrative atau integrasi metodologi ilmu, maka syaratnya harus memahami tentang rumpun ilmu, UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yaitu ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu social, sains dan teknologi, ilmu terapan dan ilmu formal. Tanpa memahami rumpun ilmu,  maka akan terdapat kesulitan untuk melakukan integrasi dalam berbagai coraknya.  Dunia pesantren dapat mengikuti perumpunan ilmu di perguruan tinggi dimaksud.

  

Ketiga, Pendidikan pesantren harus spesifik artinya bisa dibedakan dengan Pendidikan Islam dan bahkan Pendidikan umum. Pendidikan pesantren harus memiliki ciri khas yang focus pada bagaimana menerapkan epistemology integrative pesantren, yang secara distingtif berbeda dengan khususnya Pendidikan Islam, sebagaimana diselenggarakan oleh Ditjen Pendidikan Islam. Integrasi epistemologis yang merupakan upaya untuk mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan, berbagai cabang dalam rumpun ilmu agama dan rumpun ilmu lainnya, melalui metode yang relevan untuk menghasilkan kebenaran. Keberaran tersebut dapat berupa kebenaran tekstual yang disatupadukan dengan berbagai epistemology modernitas, yang rasional, berbasis sains dan teknologis. Upaya kajian tekstual inilah yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren, yang secara diametral dapat dibedakan dengan Pendidikan Islam yang lebih bercorak empiris.

  

Jadi sumber utama dalam pendidikan pesantren adalah teks. Jika Pendidikan Islam dapat mengkaji, misalnya the living qur’an berbasis empiris, maka Pendidikan pesantren terfokus pada teks dalam kajian interdisipliner atau crossdispliner atau multidisipliner. Oleh karena itu upayanya adalah mengkaji teks Alqur’an, teks hadits, teks fiqih, teks matematika, teks fisika, teks kedokteran dan ilmu lain, yang sudah memiliki basis referensi di masa lalu atau turats atau basis referensi masa kini.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.