Hakikat Megengan Sebagai Pedoman Bersedekah dan Menahan Hawa Nafsu
OpiniTentu bukan kebetulan kala saya hadir di dalam acara megengan, 15/02/2026, yang dilakukan oleh warga Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, yang kebanyakan adalah Jamaah Tahlil dan juga jamaah shalat di Mushalla Raudhatul Jannah di depan rumah. Saya hadir di sini bersama sahabat-sahabat, ibu-ibu dan remaja yang mengikuti acara megengan. Setiap orang membawa makanan, seperti masakan ketan, buah-buahan, nasi dan ikan atau telor dan tetel atau gemblong. Tidak ada patokan apapun tentang makanan yang diwajibkan. Suka-suka saja.
Sebelum upacara doa dilakukan, saya memberikan sedikit pemahaman tentang megengan, sebuah tradisi turun menurun yang konon ceritanya dikreasikan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Seorang wali yang berasal dari Tlatah Tuban, dan kemudian dimakamkan di Demak. Seorang wali yang dikenal sebagai mantan brandal Lokajaya. Seorang yang melakukan tindakan merampok harta orang kaya, bukan untuk dirinya tetapi untuk orang-orang miskin, yang hidup berkesusahan, ketidakadilan dan terpinggirkan.
Megengan adalah upacara tradisional berbasis ajaran ritual Islam. Di dalam kajian Islam Nusantara atau Islam yang yang hidup di Nusantara adalah hasil kolaborasi antara tradisi local dengan ajaran Islam yang menghasilkan tradisi Islam local. Wadahnya adalah tradisi dan substansinya adalah ajaran Islam. Bukan wadahnya tradisi dan substansinya bukan ajaran Islam. Banyak upacara yang dilakukan oleh orang Jawa yang tradisinya adalah tradisi yang sudah diislamkan dengan substansi Islam sebagai intinya, misalnya tradisi “Colokan”, tradisi “manganan”, tradisi “bari’an” dan lainnya. Secara substansial sudah menjadi Islam sebagai ciri khasnya atau intinya. Inilah yang saya konsepsikan sebagai Islam kolaboratif, yaitu tradisi Islam local dari hasil dialog antara tradisi local dengan tradisi Islam. New wine in the old bottle. Botolnya lama tetapi isinya baru.
Megengan berasl dari kata megeng atau menahan atau mengalihkan. Di dalam konteks tradisi ini, maka yang dimaksudkan adalah menahan hawa nafsu. Hal ini relevan dengan makna puasa adalah menahan hawa nafsu yang membatalkan puasa. Pesan itu seakan-akan adalah sebuah wejangan kepada umat Islam agar mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan puasa yang penuh perjuangan melawan hawa nafsu. Ada makna simbolik di dalamnya.
Di dalam tradisi Jawa dikenal konsep megeng hawa nafsu, megeng babakan hawa sanga. Artinya menahan nafsu atas sembilan lobang dari tubuh manusia, yaitu lubang mata, dua lobang hidung, lubang mulut, dua lubang telinga, lubang pusar, lubang dubur dan lubang organ seks. Inilah upacara simbolik di dalam tradisi megengan. Tradisi yang sesungguhnya sangat bernuansa Islami yang sering disalahpahami orang yang tidak memahaminya. Dianggapnya sebagai bid’ah, bukan ajaran Islam, tradisi agama lain dan sebagainya. Para penyebar Islam generasi awal dan generasi kedua, sedemikian memahami mengenai bagaimana caranya menyebarkan Islam dengan hikmah atau kearifan, dengan tutur kata yang bijaksana dan juga menggunakan logika sesuai dengan kadar kemampuan akalnya. Sudah seharusnya kita bersyukur bahwa dengan metodologi dakwah walisanga yang seperti itu, maka Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang a-historis atau yang tidak mengenal jejak perjuangan para penyebar Islam yang dinamai dengan Walisongo.
Melalui tradisi megengan, marilah kita ambil tradisinya, maknanya dan perilakunya. Tradisinya dilestarikan menjelang bulan Ramadlan untuk mengingatkan kita bahwa sebentar lagi umat Islam akan melakukan puasa. Kemudian dipahami maknanya, bahwa megengan merupakan upacara yang sarat dengan makna simbolik yang sangat Islami. Megeng babakan hawa sanga merupakan konsep yang sarat dengan ajaran Islam. Manusia harus melawan atas keinginan yang terkait dengan sembilan lobang di dalam diri manusia. Menahan mulut agar jangan berkata yang kotor, berkatalah dengan kata-kata yang menyenangkan orang lain. Menahan telinga agar jangan mendengarkan kata-kata yang merusak sikap dan perilaku kita. Menahan mata agar mata digunakan untuk melihat yang baik dan jangan melihat yang jelek-jelek. Menahan hidung agar digunakan untuk mencium sesuatu yang baik dan bermanfaat. Menahan pusar agar jangan makan berlebihan. Menahan kemaluan hanya untuk kepentingan yang baik dan bermanfaat dan menahan dubur untuk menghindari perbuatan yang tercela.
Ekspresi perilaku dalam megengan adalah membawa makanan untuk sedekah. Semua yang hadir di dalam upacara ini membawa nasi dan lauk pauk atau makanan-makanan lainnya yang bisa dijadikan sebagai wahana untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Ada banyak janda, duda, yatim piatu, dan orang-orang yang belum beruntung yang perlu kita santuni dengan makanan. Hal ini merupakan bagian dari menindaklanjuti sabda Rasulullah ith’amuth tha’am atau memberi makan kepada yang berhak. Islam menjadikan sedekah dalam bentuk makanan sebagai afdhalul ‘amal atau sebaik-baik amal bagi umat Islam.
Kita hari ini dapat melakukan tiga hal penting, yaitu membaca fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, isteri dan anak cucunya serta para sahabatnya, dapat membaca fatihah untuk orang tua dan kerabat kita yang sudah wafat, dapat membaca shalawat kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan juga bersedekah. Kita lestarikan tradisi yang baik ini dengan menjadikannya sebagai medium untuk memperkuat iman kita dan amalan ibadah kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.

