(Sumber : Generate AI)

Hari Raya Qurban: Keikhlasan, Pengorbanan dan Kerahmatan

Opini

Umat Islam Indonesia,  tentu sangat bergembira sebab hari Raya Idul Adha 1447 H atau 2026 M, Rabo, 26 Mei 2026, merupakan hari raya yang dapat diselenggarakan secara bersama seluruh umat Islam Indonesia. Untuk hari Raya Idul Fithri kemarin terjadi perbedaan. Orang Muhammadiyah menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT),  sementara Orang NU dan Pemerintah menggunakan metode imkanur ru’yat dan hasilnya terjadi perbedaan. Sebagaimana diketahui bahwa ibadah kurban adalah ibadah yang Istimewa. 

  

Ibadah kurban sesungguhnya setua usia manusia. Pada zaman Nabi Adam AS, yang diyakini oleh Agama Semitis, sebagai manusia pertama yang diturunkan oleh Allah SWT ke dunia untuk menjadi khalifah Allah fil Ard. Nabi Adam AS adalah kakek moyang manusia se dunia. Semula hanya dua orang Nabi Adam AS dan Hawwa, dan kemudian beranak pinak menjadi manusia di dunia, dengan jumlahnya sekarang  sebanyak tujuh milliard, yang menghuni Benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia. 

  

Di antara keturunan terdekat Nabi Adam AS adalah Qabil dan Habil yang mewakili cara berpikir, bersikap dan berperilaku hingga sekarang. Ada manusia yang perilakunya menggambarkan perilaku Qabil dan ada yang merepresentasikan perilaku Habil. Ada Asyhabul Syimal dan ada Asyhabul Yamin. Ada golongan kanan dan ada golongan kiri. Jika kita amati, sesungguhnya perilaku manusia kini, merupakan representasi dari manusia masa lalu. 

   

Secara historis-religius, maka orang pertama yang diminta berkorban adalah Qabil dan Habil. Qabil adalah representasi petani dan Habil adalah representasi peternak. Qabil diminta berkorban dengan dengan hasil panenan pertanian dan Habil diminta untuk berkorban dengan hasil peternakan. Keduanya sudah melakukan pengorbanan, dan mendapatkan balasannya masing-masing. kurban Qabil ditolak dan kurban Habil diterima.

  

Menurut pada ahli Sejarah perkembangan manusia, maka dunia pertanian dan peternakan sudah terjadi kira-kira 10.000 tahun yang lalu sebelum masehi. Artinya peristiwa kurban sudah terjadi setelah tahun tersebut. Jika Adam AS dan keturunannya yang awal, maka peristiwa kurban tersebut sudah terjadi di zaman pertanian dan peternakan. Andaikan bahwa Nabi Adam dan keturunannya adalah para petani dan peternak, maka Adam AS dan keturunannya adalah petani dan peternak awal di dalam kehidupan manusia. Memang ada beberapa versi tentang kehidupan Nabi Adam AS. Ada yang menyatakan antara 5000 sampai 7000 tahun sebelum masehi. 

  

Sesungguhnya cerita tentang pengorbanan itu dilakukan oleh semua umat manusia setelah Nabi Adam AS sesuai dengan Nabi yang diturunkan sebagai pembimbing manusia. Misalnya Nabi Syist, Nabi Hud, Nabi Nuh dan jajaran Nabi-Nabi sesudahnya. Tetapi cerita tentang kurban kemudian mengedepan lagi pada masa Nabi Ibrahim AS. Juga terdapat versi yang berbeda antara Agama Nasrani dengan Islam tentang siapa yang dikorbankan. Agama Nasrani menyatakan bahwa yang dikorbankan adalah Nabi Ishaq sesuai dengan Kitab Injil Kanonik, sementara para ahli sejarah Islam menyatakan yang dikorbankan adalah Nabi Ismail sesuai dengan berita Sejarah Nabi dari Kitab Suci Alqur’an.  Tentang siapa yang dikorbankan biarlah menjadi keyakinan agama-agama sesuai dengan Kitab Sucinya. Yang sama jangan dibedakan dan yang berbeda jangan disamakan. Biarlah apa adanya sesuai dengan keyakinannya. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku dan tidak ada paksaan di dalam agama. 

  

Tetapi di antara paparan sejarah tersebut terdapat peristiwa religious yang sangat menarik. Yaitu ada kurban yang diterima dan ada kurban yang ditolak. Dan dipastikan dewasa ini juga ada dua posisi tersebut. Dan yang menentukan adalah niat yang Ikhlas atau totally Ikhlas. Kurban Habil diterima oleh Allah SWT dengan indikasi korban tersebut terdiri hewan atau domba yang terbaik yang dimilikinya atau dengan keikhlasan tidak terhingga, sementara itu, kurbannya Qabil tidak diterima karena performance korbannya yang  tidak memenuhi standar Ikhlas atau less Ikhlas. Produk pertanian yang dikorbankannya dipilih dari hasil tanaman yang tidak memenuhi standar baik. Jadi ada dimensi keikhlasan yang tidak terhingga. 

  

Coba kita analisis pengorbanan Nabi Ibrahim yang extra ordinary korban, yaitu untuk mengorbankan putranya yang belum akil baligh atau masih remaja awal. Sedemikian tingginya keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail. Keduanya memiliki kepasrahan yang tidak ada taranya atau Ikhlas yang tidak terhingga. Nabi Ibrahim, Ismail dan Hajar adalah sebuah keluarga yang memiliki pemahaman, sikap dan perilaku Ikhlas tidak terhingga. Jika ada salah satu saja yang kurang Ikhlas atau terpaksa Ikhlas, maka kejadian penggantian Ismail sebagai kurban dengan domba dari Surga itu tidak akan terjadi. Di kala Setan menggoda ketiganya, maka ketiganya Ikhlas atas perintah Allah. 

  

Habil, Ibrahim, Ismail dan Hajar itu memasuki dunia tidak terhingga. Keikhlasan yang tidak terhingga. Di dalam dunia matematika memasuki angka 0 (nol) yang sebagaimana ditemukan oleh Al Khawarizmi adalah angka yang tidak terhingga, sebab berapapun angka matematika dikalikan, dibagi, ditambahkan dan dikurangi dengan 0 (nol), maka hasilnya adalah 0 (nol) juga. Angka 0 (nol) dalam matematika adalah symbol Tuhan. Jadi di kala manusia berada di dalam keadaan tidak terhingga dan bertemu dengan hakikat Tuhan yang tidak terhingga, maka akan bertemu dalam ketidakterhinggaan. Itulah makna keikhlasan Habil, Ibrahim, Ismail dan Hajar. Makanya kurban mereka diterima oleh Allah dan mendapatkan rahmat dan ridhanya Allah SWT. 

  

Dengan demikian, kurban kepada siapa dan dalam rupa yang sesuai dengan syariat agama saja tidak cukup, sebab ada dimensi niat yang Ikhlas, yang memasuki tingkatan keikhlasan yang tidak terhingga. Oleh karena itu, ada trilogy dalam berkorban yaitu: Amal, Ikhlas dan Rahmat (AIR). Sebuah amal berkurban yang dilakukan dengan full keikhlasan, maka mengantarkannya untuk mendapatkan rahmatnya Allah SWT.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.