(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Menjaga Keberagaman yang Manfaat Bagi Kehidupan

Opini

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh.

  

إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

  

“Innal hamda lillah nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu wa naudzu billahi min syururi anfusina wa min syayiati a’malina. Man yadillahu fala mudhillallah, waman yudhlil fa la Hadiya lahu.  Wa asyhadu an la ilaha illallah, wahdahu la syarikalahu,  waasyhadu anna Muhammadan ‘abduhu  Rasuluhu.   A’mma ba’du.”

  

Qalallahu fil qur’anil adzim: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

  

Faqalallahu ta’ala: ya ayyuha ladzina amanu, ittaqullaha haqqa tuqatihi wa latamuntunna ill awa aintum muslimun. 

  

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah.

  

Marilah kita semua bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan kepada kita semua yang berupa nikmat kesehatan fisik, jiwa dan roh. Berkat fisik dan jiwa yang sehat, maka roh juga menjadi sehat. Ada maqalah yang menyatakan qalbun salim fi jismin salim, hati atau jiwa yang sehat terletak pada badan yang sehat. Masyarakat Indonesia juga harus bersyukur karena di tempat ini masjid yang megah, Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang megah, sebagai perwujudan atas Upaya untuk membangun IKN sebagai pusat pemerintahan, pusat Pendidikan, pusat perdaban Nusantara untuk bangsa dan dunia. Kita patut mengapresiasi atas kehadiran berbagai infrastuktur di tempat ini. Mari kita yakini bahwa semua ini adalah bagian dari takdir Allah SWT untuk kita semua.

    


Baca Juga : Hijab dan Upacara 17 Agustus 2024

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah.

  

Kita semua sudah sangat mengenal tentang kata taqwa. Kata ini menjadi kata yang utama di dalam khutbah yang setiap Jum’at kita dengarkan. Sungguh kata taqwa merupakan kata kunci di dalam kehidupan beragama dan kehidupan pada umumnya. Takwa merupakan kunci untuk beribadah kepada Allah SWT. Tanpa takwa beribadah itu tidak ada artinya. Mengucapkan kata taqwa menjadi salah satu syarat sahnya khutbah Jum’at.

  

Kata taqwa itulah yang dibahas oleh Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin. Kata taqwa tersebut dapat menjadi pembeda bagi manusia untuk memahami  mana yang haq dan mana yang bathil. Mana yang benar dan mana yang salah. Allah selalu memberikan kepada manusia untuk melakukan introspeksi atas kesalahan yang dilakukannya. Allah selalu memberikan peluang agar manusia selalu berada di jalannya, jalan Islam.

  

Ayat Al-Qur’an dalam Surat Ali Imron: 3, menyatakan: “Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa.” Atau di dalam Surat At Taghabun: 6; dinyatakan: “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu.” Atau ayat lain dalam Surat At Thalaq: 2-3, dinyatakan: “barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

  

Ayat Al-Qur’an, sebagaimana terjemahannya di atas memberikan gambaran bahwa manusia diharapkan bahkan diwajibkan untuk bertaqwa kepada Allah, di mana Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya. Yang terbaik tersebut bisa berupa petunjuk ke arah kebaikan, maupun rejeki yang sesuai dengan takarannya bahkan yang tidak disangkanya. 

  

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, dinyatakan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa sesungguhnya Nabi  SAW berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu akan petunjuk, ketaqwaan, menahan diri dari apa-apa yang tidak diperkenankan, serta perasaan cukup.” Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah Shadai bin Ajlan Al Bahili bahwa “saya mendengar Rasulullah berkhutbah pada Haji Wada’, Beliau bersabda: “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, kerjakanlah shalat lima kali sehari, puasalah pada Bulan Ramadlan, tunaikanlah zakat harta bendamu, dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kamu semua akan masuk surga Tuhanmu.”

  

Dari ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi ini, dapat dipahami bahwa bertaqwa merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Bertaqwa adalah instrument di dalam beragama. Makna taqwa adalah menjaga, melindungi, atau mengekang diri dari murka Allah. Itulah yang sering diterjemahkan oleh para khatib sebagai arti taqwa adalah takut kepada Allah. Cuma saja berbeda ketakutan manusia kepada hewan buas, yang kita harus melarikan diri, akan tetapi ketaqwaan kepada Allah justru untuk mendekatinya atau semakin taqarrub kepada Allah SWT.  

  

Lalu bagaimana cara untuk bertaqwa kepada Allah, yaitu:  


Baca Juga : Demokrasi di Ruang Publik Digital Indonesia

  

Pertama, menjalankan perintah Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki. Hendaknya perintah Allah sebagaimana hadits di atas ialah bersaksi bahwa hanya Allah yang patut disembah, Tuhan seluruh alam, menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadlan dan mentaati  para pemimpin. 

  

Kedua, menjaga amal perbuatannya di dalam kebaikan. Apa yang dilakukannya dapat menyenangkan hati dan perasaan orang lain. Berkata yang sopan dan bertutur sapa yang membuat orang merasa damai. Menjaga lesan, tindakan dan perilaku yang selalu berada di dalam koridor nilai-nilai Islam yang luhur. Di dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli tentang “Orang Mati Suri” digambarkan bahwa perbuatan jelek akan dirasakan sangat menyiksa dan perbuatan baik sangat menggembirakan. Roh sudah keluar dari jasad tetapi masih dapat melihat fenomena tubuhnya,  termasuk pembicaraan orang di sekeliling jasadnya, serta bisa merasakan apa yang pernah dilakukannya.  

  

Ketiga, menjaga husnudh dhan kepada Allah. Selalu berbaik sangka kepada Allah. Tidak pernah terlintas di dalam dirinya untuk berburuk sangka kepada Allah. Jika suatu ketika berdoa kepada Allah dan belum dikabulkan maka tidak menjustifikasi bahwa Allah tidak sayang kepadanya. Setiap segala sesuatu yang terjadi berbasis kepada kasih sayang Allah SWT. Berdasarkan pengalaman religious, ada doa yang langsung diterima dan ada yang ditunda. Mereka yang dapat memasuki alam jabarut dan malakut, maka doa akan dapat segera dikabulkan, karena sudah terbuka hijab yang menyelimuti kehidupannya.

  

Keempat, menjauhi atas tindakan yang bisa dimurkai oleh Allah SWT. Ada banyak perbuatan yang bisa dinyatakan sebagai maksiat, dan sebaiknya bahkan seharusnya sebagai umat Islam dapat menghindarinya. Jika perbuatan itu akan terjadi marilah dibaca “audzu billahi minasy syaithanir rajim.” Atau jika sudah terjadi, maka sesegerakan untuk membacakan istighfar atau shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan memperoleh syafaatnya. Saya kira manusia di dunia selain para Nabi yang ma’shum dipastikan melakukan perbuatan yang salah. Bahkan Nabi Adam harus turun ke bumi untuk menjadi khalifah karena melakukan kesalahan. Tetapi membaca “Rabbana dhalamna anfusana wa inlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin.”  Yang artinya: “Wahai Tuhan kami, alangkah dhalimnya jiwa kami, dan jika tidak engkau ampuni dan  Engkau Rahmati hidup kami, maka kami akan termasuk orang yang merugi.” Allah memberikan ampunan karena kesungguhan doa yang dilantunkannya.

  

Kelima, menjaga keluarga agar selalu di jalan Allah. Termasuk di antara yang dapat menjaga ketaqwaan adalah dengan menjaga keluarga kita agar selalu berada di dalam Islam. Islam mengajarkan agar keluarga kita terus beriman dan beribadah kepada Allah. Di dalam Islam diajarkan sebagaimana perintah Allah: “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Melalui penjagaan kepada keluarga, maka kita akan hidup dengan tenang dan penuh dengan kegembiraan.

  

Hadirin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah.

  

Di dalam konteks ini, maka Islam mengajarkan tentang ukhuwah basyariyah atau persaudaraan berbasis kemanusiaan. Di dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori terdapat potongan hadits yang menyatakan: “kunu ibadallahi  ikhwana.” Artinya: “jadilah hamba Tuhanmu yang bersaudara”. Islam mengajarkan agar kita dapat  menjadi sesama umat manusia yang bersaudara. Jadi bukan hanya bersaudara sesama agama tetapi persaudaraan sesama manusia. Manusia di dunia sesungguhnya adalah bersaudara.\"

    


Baca Juga : SKB 3 Menteri : Atribut Keagamaan Sebagai Simbol Kepemilikan dan Kebanggaan

Untuk menjadi manusia yang mengedepankan ukhuwah basyariyah, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 

  

Pertama, menyadari bahwa manusia tidak hidup sendiri. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jauhi keinginan untuk menang sendiri dan menguasai sendiri dan berkemauan untuk berbagi tidak hanya bagi kelompoknya tetapi juga merangkul yang berbeda. Umat menjadi kuat jika antara yang sama dan berbeda dapat menjadi satu kesatuan.

  

Kedua, menahan nafsu amarah atau nafsu angkara murka. Sumber masalah kemanusiaan adalah keangkaramurkaan. Keinginan untuk menguasai dan memiliki semua hal adalah awal dari malapetaka. Makanya, benar yang dinyatakan Nabi Muhammad SAW bahwa jihad yang besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Kendalikan hawa nafsu agar ukhuwah basyariyah akan bisa dirajut dengan baik.

  

Ketiga, menjaga harkat dan martabat kemanusiaan. Tidak ada yang lebih indah di dalam kehidupan sesama antar manusia kecuali kita menghargai, menghormati dan memulyakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan. Adapun kemudian kita berbeda dalam warna kulit, etnis, suku bangsa dan agama hanyalah asesori dalam kehidupan. Substansi manusia adalah pada aspek kemanusiaannya. Yang paling hebat di antara asesori itu adalah ketaqwaan seseorang. Taqwa adalah pembeda di antara sesama manusia. 

  

Keempat, menghargai kreasi manusia dengan sikap dan tindakan yang relevan dengan prinsip umum dalam beragama dan kehidupan bersama. Jangan ada di antara kita yang merasa bahwa hanya kita satu-satunya yang memiliki kreasi dan kemampuan untuk menyatakan kebenaran yang dihasilkan oleh kemampuan logika. Mari kita pahami bahwa dalam dunia tafsir agama,  maka kebenaran itu tidak tunggal. Ada para penafsir lain yang juga perlu untuk diapresiasi. Yang mutlak benar hanya Allah, Rasul dan kitab sucinya. Yang bukan itu adalah tafsir dan kita harus menoleransi atas perbedaan.

  

Kelima, menjauhi kekerasan, baik kekerasan simbolik maupun actual. Keduanya akan menjadi awal petaka bagi kemanusiaan. Manakala terjadi kekerasan maka akan menghasilkan kekerasan baru atau munculnya spiral kekerasan. Kekerasan baik simbolik apalagi fisik akan meninggalkan trauma berkepanjangan. Oleh karena itu, agar terjaga ukhuwah basyariyah  maka semua orang menyadari akan akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan social. Manusia diberikan oleh Allah kemampuan untuk membangun silaturrahmi berbasis pada ukhuwah basyariyah. Mari kita rajut kerukunan berdasar atas rasa kemanusiaan agar hidup kita menjadi aman dan damai. 

  

Hadirin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah.

  

Hal yang terakhir, kita sudah terbiasa untuk berdzikir kepada Allah SWT dengan ucapan: “subhanallah wal hamdu lillah, wa ilaha illallah, wallahu akbar.\" Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Imam An Nawawi, bahwa bacaan ini sesungguhnya merupakan sedekah untuk tubuh kita. Setiap pagi tubuh kita perlu sedekah, dan sedekahnya adalah ucapan “subhanallah (mensucikan Allah), lalu alhamdulillah  (bersyukur kepada Allah), kemudian tahlil (la ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar). 

  

Marilah kita niatkan membaca kalimat dzikir ini untuk membahagiakan tubuh atau jasad atau ruas-ruas tulang kita. Mari kita baca kapan saja dengan niat sedekah dimaksud. Yang lebih afdhal adalah dibaca di  waktu pagi hari.

  

Ihdinash shirathal mustaqim.

  

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

  

Aqulu qauli hadza fastaghfirullah li walakum. Fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim