Pandangan Optimis atau Pesimis tentang Studi Islam: UIN Khas Jember
OpiniDi kalangan PTKI pertanyaan mau kemana atau mau dikemanakan Studi Islam merupakan pertanyaan yang sering didengar. Jika mau kemana terkait dengan bagaimana peran PTKI, Pimpinan dan dosennya untuk masa yang akan datang. Jika mau dikemanakan terkait dengan kebijakan yang diproduksi oleh para pejabat yang mengelola studi Islam, terutama di jajaran Pimpinan Kemenag Pusat, khususnya Ditjen Pendidikan Islam.
Jika pertanyaannya mau dikemanakan, maka yang terlibat adalah kebijakan dan implementasi kebijakan yang dilakukan oleh PTKI. Saya lebih senang dengan pernyataan: Studi Islam Masa Depan dan bukan Masa Depan Studi Islam. Studi Islam Masa Depan lebih prospektif dibandingkan dengan Masa Depan Studi Islam. Studi Islam masa depan berbasis optimistic thinking, sedangkan masa depan studi Islam itu lebih pessimistic thinking.
Mengembangkan studi Islam adalah keharusan sejarah. Studi Islam merupakan warisan para ulama pada masa kejayaan Islam abad ke 8-12 Masehi. Melalui Baitul Hikmah, maka studi Islam berkembang seirama dengan ilmu-lainnya, sains dan filsafat. Integrasi antara agama, sains dan filsafat menjadi bagian tidak terpisahkan dari Baitul Hikmah. Lahir ilmu yang dahsyat berkat menemukan ilmu-ilmu yang berasal dari India, Persia dan Romawi. Banyak karya yang dihasilkan oleh 147 ilmuwan muslim terkemuka pada masa keemasan ilmu pengetahuan melalui Baitul Hikmah.
Ungkapan ini saya jadikan sebagai angle dalam pembicaraan di UIN KHAS Jember, 21/05/2026, yang juga menghadirkan Prof. Abdurrahman Mas’ud dari UIN Walisongo Semarang. Acara dibuka oleh Rektor, Prof. Hefni. Acara ini juga dihadiri oleh Warek I, Prof. Husna Amal, jajaran dosen dan mahasiswa Program Doktor Islamic Studies pada UIN KHAS Jember. Acara ini dipandu oleh Prof. Fawaizul Umam. Perbincangan yang menarik, sebab banyak respon dari peserta diskusi yang hadir pada acara Public Lecture ini. Kajian tentang Studi Islam memang memicu keinginan yang besar untuk membincangnya.
Studi Islam adalah upaya secara sistematis untuk mengkaji islam secara ilmiah. Selama ini pemahaman ilmiah itu jika memenuhi standar ilmiah, yaitu empiris dan rasional. Akibatnya, Islam bisa dinyatakan sebagai ilmu jika memenuhi standar empiris dan rasional. Disebut ilmiah jika meninggalkan metafisika dan metaempiris.
Agar Islam bisa menjadi ilmu, maka harus rationable and empiriable. Di sinilah, studi Islam harus memasuki kawasan interpretasi atau pemahaman para ilmuwan tentang rasionalitas dan empirisitas doktrin. Inilah produk penjajahan Barat atas filsafat ilmu. Akhirnya dinyatakan ada ilmu agama dan ilmu umum.
Di PTKI, maka epistemologi yang relevan adalah epistemology Burhani, Bayani dan Tajribi, yaitu pendekatan empiris dan metodologis yang menghadirkan kebenaran empiris berbasis pada data-data lapangan untuk membenarkannya. Pendekatannya lebih rational dan empiris. Sebagaimana ilmu yang sudah direkonstruksi oleh ilmuwan Barat, maka kebenaran ilmu itu apabila dapat diverifikasi atau difalsifikasi. Agama akan dapat menjadi ilmu melalui tafsir atau paham agama yang didapati di dalam dunia empiris. Sebagai ilmu, maka ilmu agama harus memenuhi standar empiris dan rasional atau standar verifikasi dan falsifikasi. Paham atau tafsir agama dapat memenuhi standar tersebut.
Epistemology bayani dapat digunakan oleh PTKI untuk menemukan kebenaran empiric teks berdasar atas analisis teks yang berada di dalam cabang ilmu yang sama atau untuk mengungkap kebenaran atas pendekatan monodisipliner atau integrasi dalam rumpun yang sama atau interdisipliner. Program studi Aqidah dan filsafat pada PTKI dapat melakukan pendekatan bayani, yang secara khusus pendekatan monodisipliner untuk program sarjana. Tetapi pada jenjang magister dan doctor tentu harus berbeda, sebab harus menghadirkan pendekatan crossdisipliner, multidisipliner atau transdisipliner.
Epistemology burhani juga adapat dilakukan dengan menggunakan rasio sebagai pirantinya. Ilmu dapat dinyatakan benar jika memenuhi standar rasional. Oleh karena itu, data yang berupa apa dibalik tindakan yaitu ide atau gagasan dapat diteliti. Epistemology burhani dapat bertemu dengan cara berpikir Weber dan kawan-kawan dalam paradigma definisi social yang berupa social action atau tindakan social. Sementara itu, epistemology tajribi dapat digunakan untuk mengkaji fenomena yang dapat diinderawikan atau melalui observasi sehingga dapat menghasilkan kebenaran empiris sensual atau empiris observational. Epistemology ini bisa bertemu dengan paradigma fakta social dalam studi ilmu social.
Ada banyak cabang dalam ilmu keislaman atau studi Islam. Ilmu tersebut adalah: Ilmu Al-Qur’an (misalnya: ilmu qiraat, Ilmu Asbabun Nuzul, Ilmu Tajwid). Ilmu tafsir (misalnya tafsir bir ra’yi, tafsir bil ma’tsur, tafsir ilmi). Ilmu Hadits (ilmu Hadits dirayah dan Ilmu Hadits Riwayah). Ilmu Fiqih (fiqih ibadah, fiqih munakahat, fiqih muamalah, fiqih tata negara, fiqih muqarin). Ilmu Tasawuf (misalnya tasawuf amali, tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi). Ilmu akhlak (akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah). Ilmu sejarah Islam (klasik, pertengahan dan modern). Ilmu filsafat Islam ((aliran peripatetik/al masyaiyah, iluminasi/isyraqiyah, teosofi transendental/hikmah mutaaliyah/dan teologi filosofis). Ilmu bahasa Arab (Nahwu, sharaf, maani, badi’). Ilmu sastra Arab (sejarah sastra, teori sastra dan kritik sastra). Ilmu dakwah (bil hal, bil kalam, bil lisan). Ilmu tarbiyah (kognisi, behavioral dan konstruksi pendidikan). Ilmu kalam (jabariyah, qadariyah, mu’tazilah, ahli sunnah wal jamaah, khawarij). Ilmu falaq (ilmu falaq ilmi dan ilmu falaq amali, trigonometri, astronomi). Di antara sejumlah Studi Islam, ada beberapa yang termasuk ilmu langka, misalnya: lmu hadits, Ilmu falaq. Ilmu perbandingan madzhab, Ilmu waris, Ilmu mantiq dan lain-lain.
Untuk memahami tentang Studi Islam masa depan, maka perlu diidentifikasi ilmu keislaman apa saja yang disebut “langka”. Dinyatakan sebagai ilmu langka karena terdapat hal yang menyebabkan kelangkaannya, yaitu: variabel peluang pekerjaan, variabel kelangkaan tenaga pengajar, variabel kebutuhan pengguna, variabel keterbatasan peminat, variabel pembelajaran tradisional, variabel persepsi sosial, dan Variabel kelemahan branding.
Kita dapat mengakui bahwa memang ada ilmu langka. Kita dapat melihat ada prodi-prodi yang nyaris tidak mendapatkan mahasiswa. Kita dapat merasakan usaha yang optimal tetapi minat masuk ke prodi langka sangat terbatas. Kita memahami mengapa prodi tersebut langka. Makanya harus ada upaya ekstra untuk membangun persepsi sosial tentang “masa depan” prodi langka. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk membangun variasi supporting atas prodi langka.
Di dalam konteks ini, maka diperlukan untuk merumuskan kebijakan pemihakan atas prodi langka dengan berbagai macam usaha yang rasional dan kalkulatif. Era sekarang adalah era kolaborasi. Pimpinan, dosen, dan stake holder pendidikan harus bersinergi untuk pengembangan ilmu. Pimpinan, dosen dan mahasiswa harus berpikir apa di masa depan, dan bukan masa depan itu apa. Pimpinan, dosen dan mahasiswa harus memiliki kolaborasi dengan berbagai institusi, dunia usaha dunia industri untuk dunia masa depan. Mari kita siapkan pengembangan ilmu untuk kebaikan dan kebenaran sebagai sumber kebahagiaan.
Wallahuala bi alshawab

